Walau tak bisa kusapa sebagai jingga yang hangat, pagi tetaplah pagi. Sekalipun dibebat mendung, aku selalu menunggumu dengan debar.

Saat memutuskan mencintaimu, aku sudah tahu mencintaimu memang tak mudah. Aku harus terjaga lebih awal daripada burung-burung yang bertengger di ranting pohon. Menikmati sisa-sisa gelap dengan secangkir teh atau secangkir kopi yang masih mengepulkan uap. Dengan sekeping atau dua keping roti bertabur gula-gula.

Dalam lamunanku di tepi jendela, terkadang aku melihatmu hadir sebagai tukang pos. Mengantarkan sepucuk surat atau selembar kertas usang dengan isi yang biasa-biasa saja; apa kabar? atau selamat pagi.

Dalam lamunanku yang lain, kau hadir dengan payung warna-warni di tanganmu. Menaungiku dari terik atau guyuran hujan. Atau bila kita ingin, lepaskan saja payung warna-warni itu agar diterbangkan angin. Lalu kita bersama-sama menikmati gigil yang menembus pori.

Di dekatmu, aku tahu, ada hangat yang selalu merayap hingga ke ujung-ujung saraf. Di dekatmu, yang mendidih sekalipun bisa berubah menjadi beku. Tungkai-tungkai menjadi kehilangan daya. Sebaliknya, yang membeku bisa menjadi magma dalam sekedip mata.

Pada lamunan yang berbeda, aku melihatmu hadir sebagai tukan kembang. Membawakan aneka bunga warna-warni di dalam keranjang rotan berjalin cokelat muda. Kau, dengan topi lebar yang menutupi setengah cuping runcingmu. Binar di matamu kutamsil dalam segaris lengkung senyum serupa bulan sabit di bibirmu. Garis yang membentuk sumur madu di pipimu.

Hingga akhirnya teh yang kuseduh hanya bersisa di dasar cangkir. Semut-semut hitam membawa lari kepingan rotiku. Kepul uap kopi telah menyatu dengan udara yang kusesap. Apakah Pagi-ku sudah datang?[]

 

 

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.