Tentang cinta, tentang dua hati yang menyatu erat dan lekat

Hari ini aku menyaksikan rupa Pagi yang berbeda. Matanya yang tetap bersinar, seperti pantulan cahaya di permukaan telaga. Menyejukkan sekaligus memberi kehangatan. Mengirimkan sengatan listrik dengan letupan-letupan kecil yang menggelitik.

Senyumnya, tetap seperti sampan, mendayung perlahan, mengirimkan aba-aba. Isyarat rindu yang harus dituntaskan. Ia mengayuh pelan, kadang cepat, kadang memburu, menyesuaikan dengan ritme angin dan gelombang. Ada ombak yang harus ditaklukkan. Aku terpasak di antara kedua sayapnya.

Pagi, dari balik jendela itu dunia terlihat berbeda, ya? Lampu-lampu yang melilit tiang-tiang, warna langit yang beranjak tua, kemudian bersalin menjadi abu-abu.  Berhiaskan manik-manik yang berkilau. Dininabobokan angin yang berkesiur lembut. Cahaya dan kegelapan saling bermutualisme.

Saat itulah aku menyaksikan bagaimana pancaindera saling berbicara dengan bahasanya sendiri. Kata-kata memilih bungkam. Membiarkan lidah, mata, kulit, telinga, hidung, saling berebut mengeluarkan emosi. Berjuta-juta pesan. Berjuta-juta bahasa.

Rindu perlu dibekukan, bukan? Cinta juga perlu diekstraksi. Dan waktu, perlu diikat di dalam benak dan ingatan. Agar ia, kelak, menjadi kesan dan kenangan yang membahagiakan.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.