Dear Pagi,

Rasanya sudah tak sabar ingin segera melihat rupamu. Padahal, baru belasan jam yang lalu aku menyaksikan ke-ada-anmu melalu hangat yang dikirim semesta. Melalui sulur-sulur cahaya berwarna emas.

Bahkan bayanganmu pun belum sempurna pupus dari ingatanku. Hm, bagaimana akan pupus, jika aku terus menambahnya dengan bayangan-bayangan yang baru.

Hatiku seperti sedang berlomba lari saat ini. Debarnya tak mampu kukendalikan. Liar. Ugh! Seperti sengal napas yang memburu karena berlomba dengan hasrat. Begitulah terburu-burunya debar itu agar ia segera menemui sudah. Sudah itu adalah rupamu, Pagi. Aku harus berdamai dengan malam yang pekat dan kental.

Pagi,

Aku kangen aroma tubuhmu. Aroma yang dibungkus kesiur angin. Aroma getah yang bercampur dengan bau embun yang basah. Aroma dari pancaindramu. Aku kangen kecup hangat yang kau sampirkan di pundakku. Hinggap bagai kupu-kupu di kelopak bunga. Aku ingin meneguk madu-madu yang muncul dari setiap pori-porimu.

Aku ingin mengulang fragmen itu,

saat aku mengatakan: “Kaulah Pagi-ku!”

Kemudian kau mengultimatum: “Sssttt… jangan terlalu banyak bicara!”

Ya, kau benar. Pagi merupakan jelmaan keheningan. Lalu, mengapa aku jadi sangat berisik?[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.