Selamat pagi, Pagi

Apakah kau merasa waktu begitu cepat bergerak?

Bukan sekadar berjalan, tetapi berlari menuju ke masa setelah saat ini. Ketika denganmu misalnya, waktu terasa seperti kilat. Belum puas aku merasakan hangatmu yang kau kirim lewat sulur-sulur cahaya di matamu. Belum puas aku menikmati ketenanganmu yang bercampur silir angin yang masih sejuk. Namun waktu merenggut semuanya dengan cepat. Ia menggulirkanmu dengan sekedip mata.

Saat aku memikirkan bisa memperpanjang kebersamaan denganmu, waktu seolah-olah menelikung di hadapanku. Lalu ia menjulurkan lidah merahnya. Andai waktu bisa dihentikan sedetik dua detik, mungkin aku tak perlu khawatir kau akan pergi tergesa-gesa.

Pagi,

Bekukan senyummu dan berikanlah untukku, agar aku bisa memajangnya di ruang terbaik di hatiku. Akan kurekam seluruh tentangmu… Akan kucatat dalam bait-bait yang tak pernah selesai.

Pagi,

Bila mengingatmu melahirkan keceriaan, mengapa harus tidak mengingat, ya kan? Bila ke-ada-anmu membuat kembang-kembang di taman kecilku bermekaran seketika, mengapa menganggapmu tidak ada, ya kan? Bila kamu mampu meletupkan ratusan bahkan ribuan kembang api di hidupku, apakah aku punya alasan untuk tidak menantimu?

Aku tahu,

Malam bisa akan jadi terlalu panjang atau terlalu lama. Tapi bukankah masih ada bintang gemintang atau bulan yang mengirimkan cahaya?

Pagi, selalu ada banyak cerita yang ingin kukabarkan padamu. Selalu ada riak-riak yang harus kau tenangkan. Dan selalu ada gelombang yang harus kau taklukkan di dalam diriku. Aku ingin takluk. Hanya kepadamu.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

14 Balas ke “Aku Ingin Takluk Padamu, Pagi”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.