Bagiku rupa Pagi selalu mengagumkan. Matanya yang selalu bercahaya. Senyumnya yang selalu terkembang. Seperti perahu yang tak pernah gentar menantang samudra mahaluas. Membuatku jatuh cinta berkali-kali setiap memandangnya.

Namun memandangi wajahnya dari jarak beribu-ribu kaki di atas ketinggian sana? Oh, adakah yang lebih membuat perasaanku menggelembung. Melambung. Membuatku tak sabar ingin memijak bumi. Menyalakan ponsel. Lalu mengirimkan gambar itu untuk Pagi. Ya, Pagi harus melihat wajahnya sendiri. Wajah yang tersembul di balik gumpalan awan. Wajah yang diterangi sinar jingga yang hangat. Wajah yang bersih tanpa noktah abu-abu.

“Masih ingat ketika kita saling menyatakan cinta untuk yang pertama kalinya?”
“Masih ingat ketika kita saling menggenggam untuk yang pertama kalinya?”
“Masih ingat ketika kita saling bergandengan tangan untuk yang pertama kalinya?”
“Masih ingat ketika kita saling bertatap untuk yang pertama kalinya?”
“Masih ingat ketika aku menangis di hadapanmu?”
“Masih ingat surat cintaku yang pertama untukmu?”

Duh, pertanyaan-pertanyaan itu menyerbu benakku. Bukan hanya saat itu, di atas ketinggian beribu-ribu kaki di atas sana. Tetapi juga petang ini. Hujan turun. Silir angin menjadi liar saat aku membuka jendela. Awan tampak kelabu. Aku rindu uap kopi yang kusesap bersama Pagi. Atau cokelat kental dalam cangkir porselen warna senada. Petang yang membuncahkan rindu. Membuat hati menggelenyar.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.