Di halte. Ia duduk termangu. Menatap bulir-bulir hujan yang makin deras. Lama-lama pandangannya jadi kabur, terhalang oleh hujan yang bersatu padu. Ia bahkan tak bisa melihat apa yang ada di seberang jalan.

Berulang kali ia melihat gawainya. Memastikan agar waktu tak bergerak begitu cepat. Ia harus memastikan tidak terlewatkan oleh jadwal terakhir Trans Kutaraja tujuan kota. Pukul lima lewat sepuluh menit. Ia bertanya pada dirinya sendiri, apakah masih ada Trans Kutaraja? Ah, seharusnya masih ada.

Pukul lima lewat lima belas menit. Hujan semakin lebat. Di halte hanya ada ia sendiri. Langit berubah gelap karena hujan dan dibebat mendung yang luar biasa. Sesekali petir dan kilat menyambar. Seiring itu pula jantungnya berdegub kencang. Ia ingin beringsut. Namun tubuhnya hanya bisa rapat ke tembok halte. Tempias membasahi pakaiannya.

Pukul lima lewat dua puluh lima. Bus berbadan panjang dan tambun itu melintas, tetapi sama sekali tak berhenti di halte tempat ia menunggu. Apakah supirnya tak melihat ada seorang manusia sedang menunggu-nunggu di sana? Apakah hujan yang demikian lebat juga membuat supir itu kehilangan jarak pandang seperti dirinya?

Pukul lima lewat empat puluh lima. Ia memutuskan untuk memesan ojeg online. Ia sudah menghitung-hitung, recehan di dompetnya cukup untuk ongkos pulang.

Ia pun membuka aplikasi ojeg online di ponselnya. Baru saja ia ingin menekan tombol ‘pesan’, paket data selulernya habis. Ia tersenyum kecut. Seperti ada nyeri yang tiba-tiba menyelinap di dadanya.

Ia kembali terpaku. Pandangannya menerawang. Menatap butir-butir hujan dengan pandangannya yang kian kabur. Dalam kesendiriannya ia berpikir, adakah yang mencemaskan dirinya? Tanpa sadar air matanya menetes. Segera ia menghapusnya. Ada cara untuk mengkamuflasekannya, yaitu membersamai hujan.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.