“Kau tahu bagaimana rasanya dianggap tak ada?” tanya Lu pada Ka.

Ka bergeming. Berhenti sejenak menekan-nekan keyboard laptopnya. Lalu mengalihkan pandangannya pada Lu. Lu sama sekali tak memandang Ka. Ia membuang pandangan sejauh-jauhnya. Menembus angin. Menerbangkan seluruh pikirannya. Menenangkan jiwanya yang membadai.

Lu bahkan tidak tahu bila Ka sudah berhenti mengetik dan sejak tadi memandangi dirinya. Mengamati anak-anak rambutnya yang dipermainkan angin.

Dari dekat Ka memandangi garis wajah Lu dari samping. Garis hidungnya. Pinggir garis matanya. Garis pipinya. Sudut bibirnya. Telinganya. Lehernya.

Ka menarik napas. Dalam. Lalu melepasnya perlahan. Rongga dadanya terasa lebih lapang sekarang. Ia menggenggam jari-jemari kanan Lu dengan tangan kirinya. Hangat. Lu masih belum menoleh.

“Apa yang kau lihat di sana, Lu?”

Lu masih diam. Pikirannya menerawang jauh. Ia ingin banyak bicara tapi suara-suara itu rasanya seperti duri. Menusuk-nusuk kerongkongannya. Nyeri. Namun ada nyeri yang lebih hebat di hatinya.

“Lu?” Ka merapatkan genggamannya. “Mengapa kau enggan memandangku?”

Lu masih tak menjawab. Bibirnya bergerak-gerak.

“Apa yang kau lihat di sana?” Ka kembali mengulang pertanyaan yang sama.

Kali ini berhasil membuat Lu menoleh. Ka melihat ada yang mengambang di mata Lu. Beberapa detik kemudian yang mengambang itu jatuh. Ka mengusap lembut. Kemudian merengkuh kepala Lu ke dadanya yang bidang.

“Menangislah …” ujar Ka lembut.

“Aku tak pernah ada ada untukmu, kan? Tak pernah benar-benar ada,” ujar Lu lirih.

Nyeri yang ia rasa semakin menusuk-nusuk. Air matanya kian jatuh. Ka membelai rambutnya lembut. Mengecup ubun-ubunnya. Membiarkan dagunya rapat di kepala Lu.

“Aku tak suka mendengar kamu mengatakan itu…”

“Lalu aku aku harus bilang apa, Ka?”

Lu mendongak. Memandang wajah Ka. “Mengapa kamu membuatku seperti orang kalah, Ka? Mengapa kamu membuatku seperti seorang pecundang?”

“Sssttt…” Ka berdesis. “Jangan pernah mengatakan begitu lagi. Berhentilah menyalahkan dirimu sendiri. Kamu seorang pemenang, Lu. Kamu telah memenangkan hatiku.”

“Aku tak ingin percaya pada semua apa yang kamu katakan, Ka. Tetapi mengapa aku selalu ingin mendengar ucapanmu, mengapa aku tak bisa berhenti memikirkanmu? Mengapa aku seperti hampir gila bila kau tak mengacuhkanku?”

“Karena kita saling mencintai. Kau pernah bilang kan, kalau cinta melahirkan kepatuhan?”

“Kau tahu bagaimana rasanya dianggap tak ada? Saat kau tahu dia membutuhkanmu, tapi kau pura-pura tak tahu.”[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.