“Pernahkah kamu merasa sangat ingin marah dan pada saat yang bersamaan merasakan kesedihan yang tidak kau ketahui penyebabnya? Hm, kau tahu, tapi mungkin kau tidak ingin orang mengetahui penyebabnya,” tanya Pi pada Lu.

Lu yang sejak tadi diam, bergeming. Menoleh pada Pi yang duduk di sebelahnya.

“Kau sudah puas memandang lautan?” tanya Lu pada Pi.

Pi menggeleng. “Aku tidak melihat lautan. Aku tidak mendengar suara ombak. Aku tidak merasakan angin pantai yang liar seperti biasanya,” jawabnya lirih.

“Barangkali karena badai di dalam dirimu terlalu hebat.”

“Entahlah …”

“Kau belum cukup resisten ternyata,” ujar Lu kemudian.

Pi mendongak. Dengan isyarat mata, Pi seolah bertanya: maksudmu?

Lu tertawa hingga tubuhnya berguncang-guncang. Membuat Pi cemberut dan memintanya berkali-kali berhenti tertawa.

“Pi, kukira kau sudah cukup dewasa. Ternyata tidak.”

“Aku tidak mengerti maksudmu.”

“Kau terlalu sibuk dengan perasaanmu sendiri, sampai-sampai kau lupa untuk menikmati apa yang seharusnya kau nikmati.”

“Menikmati apa?”

“Kebahagiaan.”

“Aku sedang sedih, Lu. Aku sedang ingin marah. Bagaimana mungkin aku bisa merasakan kebahagiaan dalam situasi seperti ini.”

“Ngomong-ngomong kau wangi sekali.”

Kening Pi berkerut.

“Aku kan sudah mandi.”

“Tapi ini bukan wangi sabun yang biasa kau pakai.”

“Hm…”

“Kau pakai sabun apa?”

“Sabun dengan ekstrak lidah buaya, biji anggur, dan white tea.”

“Aku jadi ingin menciummu.”

Pi mencubit lengan Lu. Lu menjerit karena sakit sekaligus merasa tergoda. Lebih dari itu, ia senang akhirnya Pi bisa tertawa.

“Kau juga pakai body lotion dengan kandungan yang sama?”

Pi mengangguk. Keningnya berkerut. Terheran-heran dengan pertanyaan Lu.

“Pantas kulitmu begitu sehat. Tetapi kalau kamu sering cemberut begitu tetap tak akan bisa menahan laju keriput di wajahmu. Kau mau berkeriput?” Lu mendelik jenaka.

Tawa Pi akhirnya pecah berderai-derai. Seperti ombak yang lepas menggeriak.

“Apa kau masih sedih dan ingin marah padaku?” tanya Lu setelah beberapa saat mereka saling diam.

Dalam diam Lu menyesap sebanyak-banyaknya aroma sabun dan body lotion yang masih hinggap di tubuh Pi. Dalam diam pula Pi menyesap sebanyak-banyaknya aroma tubuh Lu yang maskulin. Entah sejak kapan ia jadi tergila-gila pada aroma tubuh Lu.

“Kau masih sedih?”

Pi menggeleng.

“Kau masih ingin marah padaku?”

Lagi-lagi Pi menggeleng.

Lu tersenyum. “Lain kali, bila kamu ingin marah padaku, katakanlah. Aku akan selalu mendengar, jangan simpan sendiri, rindu itu memang menyiksa. Bila berlebih efeknya seperti itu…”

“Sekarang aku melihat lautan. Aku kembali mendengar suara ombak. Kembali merasakan angin pantai yang liar…”[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

1 Komentar pada “Pi dan Lu”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.