“Apakah pernyataan rindu atau¬†ajakan minum kopi tidak cukup sebagai isyarat kalau aku ingin bertemu dengannya?” tanya Rin pada Du dengan suara lirih.

Rin menyeruput kopi panas sambil memandangi gerimis dari jendela. Tampak langit pengujung November yang kelabu. Muram. Seolah merepresentasikan suasana hatinya saat ini. Marah bercampur rindu berkecamuk dalam dirinya. Membuatnya uring-uringan. Ia nyaris kehilangan energi untuk menyelesaikan semua pekerjaannya yang menumpuk.

Du meletakkan pulpen dan kertas gambar yang sejak tadi dicoret-coretnya. Sebuah sketsa yang memperlihatkan kesemrawutan salah satu sudut di kota ini. Ia menarik garis bibirnya hingga melengkung seperti perahu nelaya, sayangnya Rin tidak melihat senyum termanisnya itu. Ia tengah asyik dengan lamunannya sendiri.

“Kau lihat gambar ini?” Du mengulurkan kertas gambarnya kepada Rin.

Rin menoleh. Lamunannya buyar. Pikirannya tentang satu sosok seketika ikut menguap. Menghilang seperti gumpalan asap yang diserobot angin nan liar. “Bagaimana menurutmu?” tanya Du kemudian.

Rin menggerutu dalam hati. Aku sedang tak ingin membahas soal gambar. Aku tak mengerti apa pun soal gambar. Pekiknya dalam hati. Lebih dari itu, kekacauan perasaan yang ia rasakan berhari-hari belakangan ini membuat pikirannya ikut berantakan.

Du yang memahami betul sifat Rin kembali tersenyum. “Bagus, kan?” cecar Du.

Mau tak mau Rin mengangguk. Sketsa itu memang bagus. Walaupun secara teknik Rin tidak paham, tetapi ia tahu mana gambar yang bagus dan tidak. Du membuat sketsanya dengan sepenuh hati. Hasilnya terlihat sempurna.

“Gambar ini tampak bagus karena semua komposisinya dibuat proporsional.” Du menjelaskan tanpa maksud mengajari. “Begitu juga dengan perasaan dan rasa cinta, harus proporsional juga …,” Du sengaja menggantung kalimatnya untuk memancing reaksi Rin.

Benar. Rin terpancing. Sambil menyeruput kopinya Rin memandang Du yang duduk di sampingnya. Tanpa sadar air matanya menetes. Belum pernah ia merasa sekalut ini. Sekacau ini. Seterluka saat ini. Merasa tak berarti.

“Kamu benar, Du. Aku tidak bisa mengatur perasaanku secara proporsional. Aku terlalu berlebih mencintainya, sementara aku sendiri tidak yakin dan tidak bisa memastikan, apakah dia mencintaiku seperti aku mencintainya.”

Rin menarik napas panjang lalu melepasnya perlahan-lahan. Rongga dadanya terasa pengap, seperti dipenuhi asap.¬† “Aku telah terbiasa dengan celotehnya yang riang, diskusi panjang yang kadang berujung pada perdebatan, permintaan-permintaan kecil darinya yang membuatku tak kuasa menolak. Semua itu melahirkan kebahagiaan tersendiri buatku.” Rin terus bercerita. Mengeluarkan isi hati yang selama ini terkungkung di sanubarinya.

Du mendengar dengan khusyuk di sebelahnya. Sesekali ia menyeruput kopi tubruk yang diseduh Rin untuknya. Kopi tanpa gula, yang meski pahit tetap terasa nikmat di lidah para pecinta kopi seperti mereka.

“Malam kemarin dia mengatakan, ada hal-hal yang tidak ingin ia perdebatkan denganku. Sementara aku merasa, yang kami perdebatkan selama ini sesuatu yang wajar. Mungkin karena itu dia menghindari percakapan denganku, ya, Du?”

“Aku tidak bisa jawab iya atau tidak, Rin. Aku tidak mengetahui topik apa saja yang menjadi perbincangan kalian, aku juga tidak mengenal sosok yang telah merebut seluruh perhatianmu itu. Mungkin dia perlu ruang untuk dirinya sendiri.”

Hati Rin seperti tercubit. Ruang? Ah, ya, mungkin saja.

“Ah, Du kau mengingatkanku akan ruang itu. Mungkin, mungkin kau benar. Dia perlu ruang untuk dirinya sendiri. Beberapa waktu terakhir ini, setiap kali aku mengajaknya minum kopi, dia selalu tak pernah bisa. Dia bilang terlalu mendadak, padahal aku belum mengatakan waktunya. Aku menunggunya luang dan mengajaku minum kopi, tapi tak kunjung ada. Kau benar, Du. Dia butuh ruang… Sekarang aku tahu, pernyataan rindu dan ajakan minum kopi itu tidak akan berarti sebagai isyarat apa pun bagi seseorang yang membutuhkan ruang untuk dirinya sendiri.”

Rin kembali menyeruput kopinya. Tegukan terakhir yang terasa menusuk-nusuk saluran kerongkongannya. Kali ini kopi itu tak hanya terasa lebih pahit, tetapi telah menjelma menjadi duri-duri yang memerihkan.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

1 Komentar pada “Rin dan Du”

  • Apa, sih alasan Rin dan Du tetap bertemu? Kalau hanya untuk membuat satu kata itu terus berulang kembali. Atau karena kau sangat yakin bahwa rindu itu bisa tuntas.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.