“Kau ke mana saja?” tanya Tera pada Mooza.

Setelah hampir satu jam berdiam diri di hadapan kekasihnya, Te mengajukan sebuah pertanyaan. Dan, tentu saja dijawab dengan sangat administratif oleh Mu: ada dan sibuk.

Jawaban itu tidak membuat Te puas, tetapi ia tak ingin membantah atau mendebat. Selanjutnya ia kembali diam. Menjawab satu-satu pertanyaan dari Mu dengan lirih. Ia kehilangan semangat. Dayanya belum kembali seperti semula. Ia berangkat dari rumah dengan gontai. Sempat ingin berbalik arah. Urung menemui Mu. Namun ia tak ingin membuat hubungannya dengan Mu semakin kacau. Kekacauan yang tercipta dari rindu yang bertumpuk-tumpuk.

Lagipula, muncul rasa tak tega bila ia tak jadi menemui kekasihnya itu. Apalagi sejak setengah jam sebelumnya ia sudah menerima pesan dari Mu: aku sudah di sini.

Perasaan campur aduk yang beberapa hari terakhir membelenggunya terasa membebatnya kian erat. Membuat mulutnya terkunci. Perasaan ditinggalkan. Merasa disisihkan. Merasa tak dibutuhkan. Merasa diabaikan. Semua itu sangat mengganggu. Meski sudah di depan Mu perasaan itu tidak mau enyah dari dirinya.

Te membuka tasnya, memeriksa kantung-kantung yang sudah penuh berisi cerita yang ditumpuknya selama belasan hari. Cerita yang ingin ia bagi pada Mu. Namun lagi-lagi ia menunda untuk bercerita. Ia memilih bungkam. Membiarkan Mu berulang kali melemparkan tanya dan dijawab dengan malas olehnya.

Dalam diam diamatinya Mu yang tampaknya sedang sibuk. Berlembar-lembar kertas. Jari yang mengetuk-ngetuk di layar kibor laptop mungilnya.

“Kekasih yang luar biasa,” batin Tera. Yang tetap mencintai dirinya dengan segala sifat buruknya. Tukang ambek. Yang suka merajuk tanpa sebab. Seperti sekarang ini. Hati yang terlalu perasa. Jiwa yang sangat sensitif. Yang sukar dibujuk dengan kata-kata, kecuali dengan tatapan Mu yang hangat, menenangkan, dan menguatkan.

Namun bila situasinya sedang seperti saat ini, Te tak ingin bersitatap dengan Mu. Tatapan itu akan membuatnya luluh. Membuatnya tak berdaya.

“Aku hanya ingin dipeluk,” desah Te di hatinya. “Aku tak ingin apa-apa selain menenggelamkan diriku ke pelukanmu yang melegakan.”

“Mengapa kau hanya diam?” ujar Mu kesekian kalinya dengan jenaka.

Te berusaha membisu dengan mempermainkan ponselnya. Mu bereaksi cepat dengan memindahkan benda mungil itu. Te mengalihkan perhatiannya pada gelas berisi lemon tea dingin, diaduk-aduknya sisa air di gelas. Diseduh. Diaduk-aduk. Begitu seterusnya. Pemandangan menggelikan bagi Mu dan membuatnya tertawa.

“Aku rindu.” Akhirnya Te bersuara.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.