“Jangan pernah tinggalkan aku, ya. Aku butuh kamu untuk kuat.”

Saat saling tatap yang hanya sepersekian detik, Ta melontarkan kalimat itu pada Nya. Melalui sorot matanya. Sementara bibirnya tetap terkunci rapat. Rasa haru dan rindu bercampur padu di dalam dirinya.

Nya kini bukan lagi sebagai seseorang yang hanya melengkapi hidupnya. Nya adalah Ta sendiri. Nya telah menjadi bagian dari dirinya sendiri. Nya adalah denyut jantungnya. Pancaindranya.

Ia merasa alur hidupnya seperti dalam kisah-kisah drama. Pertemuan. Lalu saling jatuh cinta. Bertukar banyak cerita. Lalu rasa sakit muncul untuk melengkapi semua itu. Rindu dan cinta, seperti paradok. Di saat yang bersamaan bisa menciptakan dua rasa sekaligus; bahagia dan rasa sakit. Tapi Ta menikmati keduanya.

Kini ia mulai takut bila suatu saat Nya pergi dalam hidupnya. Entah karena atau untuk alasan apa pun. Ta membuang jauh-jauh pikiran itu. Tidak. Tidak mungkin. Nya pernah bilang dia tidak akan pernah meninggalkan Ta. Lalu apa yang ia cemaskan?

Bukankah keberadaan Nya di sampingnya saat ini lebih dari cukup untuk membuktikan, kalau mereka saling mencintai. Saling ingin memiliki. Bukan hanya Ta yang mencintai Nya. Nya juga mencintai Ta.

Hujan yang sedang turun melengkapi kisah drama itu. Ta dan Nya merapatkan bahu ke dinding. Kadang diam. Kadang bertukar kata dengan lirih. Hampir tengah malam. Hujan menjebak mereka. Mengikat gerak mereka untuk kembali ke rumah masing-masing. Ke kehidupan masing-masing. Kehidupan yang nyata.

“Kau ingat hujan di suatu petang?” tanya Ta.

“Kapan?” Nya bertanya balik.

“Saat kita pulang memotret. Waktu itu hujan turun sangat deras dan kita terpaksa berteduh.”

“Oh ya, aku ingat sekarang. Kenapa?”

“Ada seseorang di sana yang bertanya padaku.”

“Bertanya apa?”

“Apakah pria itu kekasihmu?”

“Lalu, kau jawab apa?”

“Kujawab iya. Dia kekasihku. Kekasih yang paling kucintai.”

“Kau jawab begitu?”

“Di dalam hatiku.”

Ta kembali termenung. Di hadapan hujan, ia kembali memunculkan semua kenangan antara dirinya dengan Nya. Awal pertemuan. Awal saling menyapa. Saat pertama kali Nya bilang: kau cantik sekali hari ini. Ta masih ingat, Nya pernah mengatakan itu dua kali. Saat pertama kali Nya bilang rindu. Saat pertama kali merasakan sentuhan dan kecupannya. Rasa hangat itu seolah kembali menjalari tubuhnya. Menghalau rasa dingin yang menusuk di tengah kondisi hujan seperti sekarang.

Potongan-potongan cerita itu seperti lukisan. Menempel di setiap dinding di bilik hatinya paling rahasia. Hanya Nya yang tahu. Hanya Nya yang ia izinkan untuk melihat semua yang ada di hatinya. Nya bisa merasakan kapan hati itu berdetak kuat dan kapan berdetak lemah.

“Nya…, kau tahu, apa yang sudah kuberikan untukmu rasanya tak cukup untuk menggambarkan betapa besarnya cintaku padamu.”[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.