“Kamu berani bayar aku berapa?” tanya Ma pada Du.

Dipandanginya Du dengan tatapan jenaka. Matanya membulat. Lalu beralih pada naskah-naskah yang baru saja selesai ditulis Du di kertas kerjanya. “Nanti kamu yang memolesnya, ya.” Du mengucapkannya dengan mesra dan dijawab oleh Ma dengan jawaban di atas.

“Dengan segudang cinta untukmu,” jawab Du kemudian. Lalu ia melanjutkan aktivitasnya. Pura-pura tak pernah mengatakan kalimat apa pun.

Di sampingnya Ma sibuk menenangkan degup jantungnya yang tiba-tiba mendadak liar. Sukar benar ia menjinakkannya. Du selalu saja begitu. Celetukannya tak pernah terduga.

“Ah, kamu selalu saja membuat hatiku bergetar.”

Du bergeming.

“Kenapa ya kalau di dekat kamu aku selalu salah tingkah?” tanya Ma pada Du suatu ketika. Entah pada pertemuan yang ke berapa. “Padahal kan kita sudah sering bertemu.” Ma melanjutkan.

Du tersenyum demi mendengar pernyataan itu. Pernyataan yang membuat hatinya meletup-letup. Melayang-layang serasa di nirwana. Duh, hati mana sih yang tidak berdenyut-denyut mendengar pengakuan setulus itu. Kekasihnya itu terlalu ekspresif.

“Karena kita saling mencintai.”

“Harusnya biasa saja, kan?”

“Justru sebaliknya, mereka yang saling jatuh cinta mudah sekali merasa gugup saat berdekatan.”

“Kenapa bisa begitu?”

“Karena cinta.”

“Ih… kamu… jawab yang bener, dong.”

“Hahaha… kamu serius amat sih. Santai saja, nikmati saja perasaan kamu, kapan lagi kamu gugup saat bertemu orang.”

Ma meneguk teh jahe panas campur madunya. Rasa hangat menjalari tubuhnya. Membuatnya terasa segar kembali. Saat musim penghujan seperti sekarang, meneguk teh jahe panas menjelang senja seperti ini bisa menguatkan daya tahan tubuh. “Kamu mau coba?”

Du meraih cangkir yang disodorkan Ma. Meneguknya dua tegukan. Ia suka aroma jahe.

“Aku rasa, rasa gugup itu muncul karena kita ingin terlihat sempurna di hadapan orang yang kita cintai. Mendadak kita seperti jadi kurang percaya diri, takut kurang maksimal, takut tak bisa memenuhi harapannya,” jawab Du kemudian.

Ia meletakkan cangkir teh di meja. Lalu mencomot sepotong kue kering bertabur parutan keju. Matanya kembali tertuju pada kertas kerja.

“Begitukah?” tanya Ma.

“Yang kurasakan sih begitu.”

“Kau gugup saat di dekatku?”

“Kau pikir, kamu saja.”

Lalu keduanya tertawa.

“Seharusnya kita tak perlu takut terlihat tidak sempurna ya, justru ketidaksempurnaan itu yang membuat kita jadi punya ruang untuk saling menyempurnakan.” Ma bergumam. Tapi cukup nyaring untuk mampir ke telinga Du.

“Iya, seperti naskahku ini. Kalau kubuat terlalu sempurna, nanti kamu tidak punya ruang lagi untuk menyempurnakannya.”

Lagi-lagi mereka tertawa. Menertawakan kekonyolan ternyata lebih indah daripada menertawakan kesempurnaan yang tak pernah sempurna.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

1 Komentar pada “Ma dan Du”

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.