“Ai?”

Rin menyandarkan kepalanya di bahu Ai. Dari jarak sedekat itu ia bisa mendengar detak jantung Ai. Sangat berirama. Seolah saling bersahutan dengan detak jantungnya.

“Ya, Cinta.” Ai menjawab lembut.

Ia membetulkan letak duduknya agar Rin lebih nyaman.

“Aku senang bila kamu membutuhkan aku. Itu artinya kamu mempercayai aku.” Rin seolah berbicara pada dirinya sendiri. Matanya lurus menatap ke hutan cemara di arah utara. Pucuknya tampak dipermainkan angin. Hujan masih betah saja. Sejak pagi hingga sesore ini. Belum ada tanda-tanda akan berhenti. Membungkus mereka dalam imajinasi tanpa ujung.

Ai tersenyum. Bibirnya membentuk garis lengkung perahu. Ia menyampirkan lengannya ke bahu Rin. Lalu mengusapnya lembut. Berharap itu cukup menjadi jawaban atas kalimat yang dilontarkan Rin.

“Ah, cinta memang seharusnya begitu, kan?” tanya Rin lagi.

Rin mengangkat wajahnya. Menatap Ai sehingga bisa merasakan nafas Ai di wajahnya. Mata mereka saling berserah. “Yang saling mencintai bukankah sudah sepatutnya saling membutuhkan, saling ketergantungan, saling memiliki satu sama lainnya, saling ingin memudahkan.”

“Kamu selalu punya jawaban atas pertanyaanmu sendiri.”

“Aku takut bila sewaktu-waktu tak lagi bisa membantumu.”

Perasaan sentimental mendadak mengurapi hatinya. Ada rasa haru yang menyeruak demikian kuatnya. Ia tak bisa membendungnya.

“Rin?”

“Ya.”

“Apa yang kau sukai dari hujan?”

“Aroma petrichor. Aroma tanah basah itu selalu menenangkanku. Rasanya melegakan. Aku suka menghirupnya dalam-dalam, membiarkan aroma itu menembusi syaraf-syaraf hidungku. Saat hujan turun, aku sengaja mematung di jendela, membiarkan wajahku dijilat-jilat tempias, sementara hidungku menghidu aroma petrichor.”

“Aku ingin menjadi petrichor-mu.”

Rin menangkap suara lirih Ai. Hatinya menjadi hangat.

“Ai?”

“Ya.”

“Kau sebut aku apa?”

“Matahariku”

“Mengapa?”

“Bukankah aku Pagi-mu?”

“Karena itulah kita saling melengkapi dan saling membutuhkan, kan?”

Ai tersenyum. Rin tersenyum. []

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.