Sesekali, bertanyalah tentangku. Boleh tentang apa saja. Boleh yang sederhana dan remeh temeh, seperti apa kabar? Di mana? Bagaimana harimu? Atau, kau sudah makan?

Walaupun terkesan basa-basi, bila kau yang tanyakan, aku pasti akan sangat senang menjawabnya. Hatiku pasti seketika menjadi berbunga-bunga. Hal-hal sepele begitu belum tentu cuma menghasilkan remah-remah, kan?

Sesekali, bertanyalah tentangku. Misalnya, apakah aku rindu? Aku tahu, aku tahu, tanpa kau tanyakan pun, aku akan mengatakannya. Aku sering mengatakannya. Mungkin kamu sudah bosan mendengarnya. Mungkin menurutmu aku lebay, ya?

Aku hanya ingin bilang, bercerita karena ditanya itu sensasinya berbeda. Melahirkan antusiasme.

Sesekali, bertanyalah tentangku. Misalnya, mengapa aku begitu? Mengapa aku begini?

Eh, tapi tak perlu lagi kau tanyakan. Aku sudah sering bertanya pada diriku sendiri. Tentangmu. Maksudku begini, aku sering bertanya pada diriku sendiri. Perlukah kamu menanyakan semua itu? Perlukah? Perlukah?

Aku mengulang-ulang kata ‘perlu’ berulang-ulang. Kesimpulanku cuma satu: pertanyaan akan ada ketika jawaban itu menjadi penting.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.