Pernahkah kau tergesa-gesa menyambut kedatangan pagi? Aku pernah. Setahun yang lalu tepatnya. Saat itu aku merasa malam terlalu lama bergerak. Sedang aku sudah tak sabar ingin melihat rupa pagi.

Pagi?

Mengapa harus pagi?

Selama ini aku selalu terpesona pada malam. Kegelapan yang dihiasi manik-manik bintang terasa begitu mistis dan rahasia. Sebulan sekali bulan purnama datang memberi cahaya lebih. Malam menjadikan bayang daun-daun menjadi makhluk berbeda.

Entah sejak kapan aku mulai terpesona pada pagi, hingga aku ingin menjadi bagian dari pagi itu sendiri.

“Boleh kupanggil kamu, Pagi?” tanyaku ketika itu.

“Mengapa Pagi?”

Mengapa? Mengapa Pagi?

Karena pagi adalah awal dari segala kehidupan. Pagi mengirimkan kehangatan melalui sulur-sulur berwarna jingga. Pagi mengirimkan semangat bagi burung-burung untuk berkicau.

Dan daun-daun, memanfaatkan cahaya pagi untuk berfotosintesis. Pun aku, aku ingin begitu. Aku ingin pagi mengubah warna hari-hariku.

Akhirnya kupanggil ia sebagai Pagi. Pagi sebagai Pagi. Sejak itu aku melihatnya memiliki pancaindra. Memiliki sepasang mata dengan binar yang tak pernah redup. Dan sebaris lengkung alis yang rapi. Cuping hidung yang bangir. Sepasang telinga untuk mendengar. Lidah untuk mengucapkan kata. Dan kulit untuk merasakan segala sentuhan.

Bibirnya. Aku pernah mengecup bibir Pagi. Rasanya hangat dan basah. Percampuran antara hangat matahari dan basah dari sisa-sisa embun. Manis.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.