Masih ingat ketika kau menyeduhkan secangkir teh untukku? Itu seduhan teh terenak yang pernah kuteguk. Bukan karena komposisi gulanya yang pas. Bukan pula karena menggunakan teh celup yang telah melewati proses tertentu, sehingga rasa dan warnanya terasa padu. Melainkan karena kamu menyeduh teh itu dengan tanganmu sendiri.

Pagi itu, aku duduk manis seperti tuan putri. “Tunggu di sini,” katamu.

Aku mengangguk. Menurut saja apa katamu. Lalu punggungmu membelakangiku. Menuju meja kecil di sudut ruangan.

Dengan sigap kau menjerang air. Menyiapkan dua cangkir keramik. Menuangkan gula dan teh. Setelah air mendidih kau menuangkannya dengan hati-hati. Jangan sampai tumpah.

“Ini untukmu.”

Aku mengulurkan tanganku. Menerima cangkir yang kau sodorkan. Warna teh yang keemasan. Kontras dengan warna cangkir yang putih bersih. Asapnya masih mengepul. Kupegang cupingnya kuat-kuat. Kusesap perlahan. Rasanya pas. Tidak terlalu tawar dan tidak terlalu manis.

Di luar masih gerimis. Langit tampak kelabu. Namun uap teh yang kau seduhkan untukku mengirimkan hangat ke seluruh pori-pori. Menjalar hingga ke sanubari. Untuk menghangatkan hati memang cukup dengan hal-hal yang sederhana.

Ah, tiba-tiba saja aku jadi kangen dengan teh itu.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.