“Bagaimana kita tahu seseorang mencintai kita atau tidak?” tanya Ra pada Na.

Na yang sedang serius menggambar menoleh. “Kau bertanya? Atau bergumam?”

Mendapatkan jawaban seperti itu Ra jadi cemberut. Matanya melotot. Ia mencubit lengan Na.

“Aw! Sakit tahu!” pekik Na dengan suara tertahan.

“Kamu sih!” balas Ra tak mau kalah. “Gambar apaan, sih? Serius amat kelihatannya.”

“Sketsa,” jawab Na kalem.

“Sketsa siapa?” Ra menjulurkan kepalanya lebih dekat.

Na menggoda Ra. Pura-pura tidak ingin menunjukkan sketsa yang sedang dibuatnya. Ia menyembunyikan di balik punggungnya. “Rahasia, dong!”

“Hm, sejak kapan main rahasia-rahasiaan?”

“Barusan… hahaha…” Na terkekeh.

Ra semakin penasaran. Ia berusaha merebut buku gambar dari tangan Na. Berhasil.

Tampaklah sketsa seorang perempuan dengan rambut tergerai sebahu. Dagunya lancip. Sepasang mata bola dengan binar seumpama kejora. Alisnya tebal. Bibir yang penuh menggumpal. Hidung bangir.

“Itu bukan aku!” Suara Ra terdengar lesu.

“Jelas bukan. Rambutmu kan, panjang. Dagumu memang lancip, tapi bibirmu tipis. Pantas kau cerewet…” Ra menimpali.

“Hehehe…” Ra tertawa pelan.

“Eh, kau tanya apa tadi?” Na kembali teringat pada pertanyaan Ra tadi.

“Oh. Eh. Enggak… lupain aja. Pertanyaan nggak penting, kok.” Ra berkelit.

Sekarang Ra tahu. Mudah sekali untuk mengetahui apakah seseorang mencintai kita atau tidak. Bahkan, yang di bibirnya selalu menyatakan cinta pun belum tentu sepenuh hati.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.