Dear Pagi,

Aku tahu, kabarmu selalu baik. Setidaknya, itu yang selalu kuharapkan untukmu.

Setiap pagi, sebelum sepasang mataku sempurna terbuka, selalu saja terlintas dalam pikiranku tentangmu. Hal-hal indah bersamamu menjadi pemantik agar aku selalu mendoakan kebaikan untukmu.

Ketika malam, sebelum sepasang mataku sempurna terkatup, selalu kusempatkan untuk memikirkanmu. Membayangkan senyummu, mengingat binar matamu yang pernah bergelora, atau cuma sekadar membayangkan bagaimana kau berjalan.

Itu akan menjadi pengantar tidur yang indah. Membawaku pada mimpi-mimpi yang indah pula. Pernah beberapa kali aku memimpikanmu. Dan itu membuat hatiku jadi berbunga-bunga. Lihatlah, memimpikanmu saja aku sudah bahagia.

Aku punya banyak sekali cerita sebenarnya. Nyaris setiap hari selalu saja ada yang ingin kusampaikan padamu. Berbagi cerita bersamamu tak hanya menyenangkan, tetapi juga mendebarkan. Aku selalu rindu pada sensasi jantungku yang berdetak abnormal karena interaksi denganmu.

Hanya saja, akhir-akhir ini aku merasa kalau kau tak lagi ingin mendengar cerita-cerita dariku. Kau tampak tidak acuh padaku. Ingin sekali kutanyakan mengapa. Selalu tergerak lidahku. Mengapa, Pagi?

Pagi-ku yang selalu hangat dan berwarna jingga kini kurasa seperti beku dan berwarna seputih salju. Atau kau sudah menggumpal seperti kapas-kapas yang dipintal? Menjadi apa kau sekarang? Setidaknya, jadilah sapu tangan. Dengan itu, setidaknya, bisa kuseka segala resah dan rindu yang berjelaga.

Cerita-cerita itu akhirnya kularung bersama udara. Biarkan ia menguap. Atau bercampur bersama kabut …. []

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.