Kau mungkin lupa, tapi aku selalu ingat.

Hari, saat pertama kali kita menyalakan api. Lalu menanak perasaan yang tumbuh sebagai jalinan cinta. Aku dan kamu, kemudian menjadi kita.

Kita berbagi, tentang apa saja.

Kita menyatu, selayaknya lapis-lapis pelangi yang tak berjarak.

Kita berbicara, tentang banyak hal.

Kita bercerita, selayaknya semesta yang tak bertabir.

Kita saling mendengar, tentang seluruh suara yang dikeluarkan oleh pancaindra.

Kita saling memahami, termasuk pada cemburu yang begitu liris mengiris-iris naluri.

Kau mungkin lupa, tapi aku mengingatnya untuk melengkapi kamu yang pelupa.

Aku mencatatnya, agar ingatanku tak hanya menjadi milikku.

Kau menjadi saksi betapa salah tingkahnya aku sore itu. Segelas red velvet yang menggoda. Bertabur embun di sekujur gelas. Secangkir cokelat panas yang membuai. Bertabur asap beraroma gurih.

Kita duduk di tepi jendela. Saling memandang. Saling berbagi senyum. Menikmati rasa canggung.

Mungkin kau juga gugup. Mungkin jantungmu pun berdebar hebat. Sama seperti aku. Bedanya kau bisa begitu kalem.

Sore itu, senja merona jingga. Senja itu aku jatuh cinta padamu. Senja itu aku telah menemukan dirimu.

Di ujung Maret yang hampir selesai. Di musim panas yang hangat.

Saat angsana mekar dengan bunga-bunga kuning terang. Aromanya lembut hinggap di hidungku. Begitulah aku telah menjadi candu pada aroma tubuhmu.

Kau mungkin lupa, tapi aku telah mengingatkanmu. Dengan gugup yang tak berubah. Dengan rasa canggung yang juga sama. Dengan debar yang tetap bergolak. Semua tentangmu … semua tentang kita. Terima kasih untuk kesempatan mencintai dan dicintai olehmu.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.