Pagi,

Kauingat, suatu hari kau mengatakan, kaupunya sebuah rumah yang mungil. Kauhidup seorang diri di sana. Tak ada apa pun di rumah itu, kecuali beberapa kebutuhanmu saja. Lalu aku menawarkan diri untuk hidup denganmu di rumah itu.

“Ajak aku tinggal bersamamu,” kataku saat itu.

Mungkin kamu sudah lupa, tetapi aku selalu ingat. Kemudian aku hadir di sana. Kau membawaku ke rumah itu. Mengenalkan setiap sudut dan detailnya kepadaku. Rumahmu menjadi rumah kita. Tempat kita berkumpul dan membangun kebersamaan.

Rumah yang semula begitu sepi mungkin menjadi riuh dengan kehadiranku. Hampir setiap waktu kita habiskan bersama di rumah itu. Bercengkerama, berdiskusi, hingga bertengkar.

Bertengkar, merupakan keniscayaan bagi dua orang dewasa yang menjalin sebuah hubungan yang melibatkan emosi dan perasaan. Tanpa pertengkaran, aku malah berpikir dua orang itu tidak sedang menjalin hubungan. Tanpa pertengkaran, bukan berarti sebuah hubungan sedang baik-baik saja. Tanpa pertengkaran, aku merasa eksistensi seseorang justru tidak ada.

Pagi,

Bayangkanlah bila aku tidak pernah marah ketika kamu tidak mengacuhkanku. Bayangkanlah bila aku tidak pernah peduli pada apa pun aktivitasmu. Bayangkanlah bila aku masa bodoh karena kau kekurangan waktu untukku. Bukankah dengan begitu aku justru malah menganggap kamu tidak ada?

Hal-hal kecil seperti itulah yang sering kali menyulut pertengkaran. Anggap saja aku sedang mencari perhatianmu. Karena aku membutuhkan kamu lebih dari yang kautahu. Aku memang sengaja berbuat tingkah. Aku sengaja berulah. Karena aku tahu, kamulah yang bisa menundukkan emosiku.

Ternyata aku salah. Aku lupa, kaupun bisa kesal dan marah. Kaupun bisa melakukan apa yang kulakukan padamu. Dan puncak kemarahanmu, kau meninggalkan aku sendirian di rumah itu. Kau keluar dari rumah itu tanpa berpamitan. Tanpa mengucapkan sepatah kata pun.

Aku terlalu naif ya, Pagi.

Kupikir, kamu akan membujukku. Mendamaikan hatiku dengan candaan-candaanmu yang konyol. Aku lupa, kamu juga punya ego. Dan ego itu kautunjukkan dengan keluar tiba-tiba dari rumah itu.

Sekarang aku tinggal sendiri di rumah itu. Aku, orang asing yang masuk ke sana, dan sekarang menjadi semakin asing. Aku dipaksa menjadi tuan atas rumah yang bukan milikku. Aku merasa bersalah. Itu rumahmu, seharusnya aku yang ke luar dari sana. Harusnya, aku yang pergi dari kehidupanmu.

Rumah itu sepi sekarang. Tadi pagi aku mengganti tirainya. Sekali pun kau tidak akan kembali lagi, aku akan tetap bertahan di rumah itu.[]

Mencintai Pagi seperti Ia Mencintai Zenja

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.