Blog

Jangan Menangis, Perempuanku!

Jangan menangis di hadapanku, wahai Perempuanku!

Air matamu akan berubah menjadi tombak api

Bukan hanya menikam jantungku

Melainkan turut membakar seluruh jasadku

 

Jangan menangis di hadapanku, wahai Perempuanku!

Air matamu akan berubah menjadi gelombang 

Bukan hanya menggulungku dalam kesedihan mahadahsyat

Melainkan turut menghentikan denyut paru-paruku

 

Wahai, Perempuanku!

Jangan biarkan mendung menyaput sinar mentari di wajahmu

Jangan biarkan duka menggumul kalbumu

Cukup aku, cukup aku yang bertemankan lara itu

Cukup aku, cukup aku yang bertemankan mendung itu

Cukup aku, cukup aku yang menanggung perih itu

Cukup aku, cukup aku yang memikul beban itu

 

Perempuanku!

Tersenyumlah, 

Maka lara itu akan sirna

Tersenyumlah,

Maka mendung itu akan menjadi terang

Tersenyumlah,

Maka beban itu akan menjadi ringan

 

 

Yang Lebih Kurindukan Daripada

“Selamat pagi, Cinta.”


Sayup-sayup kudengar suaramu mampir ke telingaku. Aku menggeliat. Menarik selimut dan bersiap untuk tidur kembali.


“Sayang?”


Kembali kudengar suaramu. Aku mengerjap-ngerjap. Mengumpulkan seluruh kesadaranku. Kutoleh ke kiri, mataku langsung menangkap berkas-berkas cahaya yang menembusi jendela kaca berlapis tirai putih dan cokelat muda.


“Sudah pagi rupanya…” aku membatin seraya menangkap sosokmu di sudut ruang.


Beberapa saat kemudian setelah mandi dan berkemas-kemas aku segera ke ruang makan. Setelah sebelumnya mendapat hadiah berupa pelukan yang hangat dan erat darimu, serta ciuman yang membuatku nyaris terbakar. Kau menyusul belakangan.


“Mau kopi?” tanyaku.


Kau menggeleng. Kau memilih jus jeruk segar dan beberapa potong sus. Sedangkan aku memilih sarapan dengan secangkir kopi, dua potong puding dan beberapa potong dadu semangka. Rasanya itu menjadi ritual pagi yang menyenangkan.


“Kita ke bawah saja,” katamu sesaat setelah kita usai sarapan. “Di sana kita bisa ngobrol dengan leluasa.”


“Kamu tampak lebih kurus,” ujarmu semalam, sesaat sebelum kita menyusuri kota ini sambil bergandengan tangan.


“Itu karena tergerus rindu,” jawabku setengah bercanda.


Kau ikut tertawa. Sangat bahagia rasanya bisa melihatmu tertawa seperti itu. Aku suka melihat senyummu.


“Kita sudah lama tidak bertemu. Kamu punya cerita apa? Aku ingin mendengarnya…” suaramu bercampur dengan deru angin yang meliukkan pohon-pohon di sekitar kafe tempat kita duduk. 


“Aku hanya ingin memelukmu. Menyatukan detak jantung kita,” jawabku. “ada kalanya duduk diam, saling menatap, saling bertukar senyum lebih kurindukan daripada kalimat-kalimat panjang kita.”[]

Duet di Panggung Bareng @rahmanovic

Akhirnya, bisa juga dapat kesempatan duet bareng @rahmanovic aka Mira di panggung. Rasanya? Uhg… deg-degan.

Jadi ceritanya pada Jumat sore, 10 Agustus 2018 kemarin aku dan Mira didapuk untuk mengisi talkshow seputar Steemit dan blog di panggung Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Aceh. Selama satu jam dari pukul lima sampai pukul enam sore kami cuap-cuap melalui pelantang suara.

Sebenarnya ini bukan panggung kami, melainkan jatahnya Bang @rismanrachman. Sejak awal aku mengusulkan kepada panitia agar materi tentang Steemit dan blog dimasukkan dalam agenda kegiatan. Pasalnya dua topik ini sangat erat kaitannya dengan literasi digital. Literasi memang salah satu isu yang menjadi fokus kerjanya instansi ini.

Namun karena Bang Risman tak bisa, akhirnya kamilah yang mewakili tampil di atas panggung. Eh, nggak juga ding, itu pun setelah sang Ketua KSI Banda Aceh @kems13 alias Kemal juga tak bisa karena acaranya dibuat di hari kerja. Tapi senang juga sih ha ha ha.

Karena kami sama-sama bloger dan sama-sama steemian, aku dan Mira bagi-bagi tugas. Aku bicara mengenai blog dan Mira memaparkan tentang Steemit. Sejak awal kami sepakat tidak menjadikan fulus sebagai bahasan utama kami. Uyeee… sesuai prediksi, bahkan sejak awal sang moderator langsung menyosor dengan pertanyaan yang sudah kami antisipasi itu.

Steemit dan uang memang menjadi ‘gosip’ yang selalu menyenangkan untuk dibahas. Terutama oleh mereka yang tak tahu gimana berdarah-darahnya para steemian bertahan dalam kondisi seperti sekarang. Makanya aku bersyukur tahu Steemit awalnya dari Mira yang sama-sama alumni Multiply. Fokus kami cuma menulis, menulis, dan menulis. Reward itu bonus. Na hek pasti na hak.

Aduh! Jadi ngelantur, padahal cuma mau bilang, aku happy bukan main bisa sepanggung dengan Mira. Bisa dengerin Mira cuap-cuap soal Steemit, jadi tahu kalau Mira banyak tahu mengenai platform yang satu ini. Tak rugilah selama ini aku sering ngerecokin dia hak hak hak. Sudah gitu saja![]

Literasi yang Mencerdaskan

Notula Temu Ramah dan Dialog Kepala Perpustakaan Nasional dengan Komunitas Literasi di Aceh

Tema : Literasi yang Mencerdaskan
Narasumber : Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M (Kepala Perpustakaan Nasional RI)
: Dr. Wildan Abdullah (Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh)
Moderator : Yarmen Dinamika (Redaktur Pelaksana Harian Serambi Indonesia dan Pembina Forum Aceh Menulis)
Hari dan Tanggal : Rabu, 18 Juli 2018
Tempat : Aula Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Provinsi Aceh
Notulis : Ihan
Peserta : 100 +
Waktu : Pukul 09.30-12.00 WIB

Yarmen Dinamika:
Terima kasih atas kesediaannya memanfaatkan forum ini untuk temu ramah. Selama ini kami tahu nama Bapak Syarif Bando dari koran-koran dan media saja. Di Aceh sangat banyak pegiat literasi. Penulis novel terbaik ada di Aceh, pembaca puisi terbaik juga ada di Aceh.

Ada kurang lebih 12 komunitas pegiat literasi yang hadir hari ini. Pertama saya ingin kenalkan Forum Aceh Menulis (FAMe), lembaga yang lahir sebelas bulan lalu dan sudah mempunyai sembilan cabang di seluruh Aceh. Namun ini masih sedikit karena Aceh punya 23 kabupaten/kota. Anggotanya sudah lebih dari seribu orang. Di sini kita juga belajar mengenai public speaking dan belajar bahasa Indonesia yang baik dan santun.

Yarmen Dinamika lantas memperkenalkan satu-persatu komunitas/lembaga yang hadir sebagai peserta.

Wildan Abdullah:

Kegiatan ini tidak direncanakan. Semua persiapannya dilakukan dengan sangat mendadak. Di samping saya ini sudah hadir Bapak Syarif Bando, beliau Kepala Perpustakaan Nasional RI. Saya baru kenal beliau sekitar setengah jam yang lalu, karena saya baru bertugas di sini sekitar 2,5 bulan. Beliau ke sini dalam rangka tugas dan mengawali roadshow-nya di Aceh Utara.

Bisa kita bilang beliau ini dirampok atau dibajak. Bersama kita juga turut hadir pustakawan Samsul Bahri yang berasal dari Lhoknga, Aceh Besar.

Kelas FAMe ini semula bergerilya dari kantor ke kantor yang lain, ketika saya masuk ke sini saya tawarkan agar mereka bisa menggunakan fasilitas aula yang ada di Arpus ini. Arpus ini harus menjadi rumah besar literasi. Ini terbuka bagi semua komunitas literasi yang ada di Aceh. Ini fasilitas negara yang harus kita manfaatkan dengan baik.

Drs. Muhammad Syarif Bando, M.M:

Kebanggaan tersendiri bagi saya bisa berbagi di sini. Saya suka mengembara di Nusantara ini, terutama lewat darat karena itu juga bagian dari belajar. Delapan tahun terakhir saya bertugas di Jakarta, sekitar 400 kabupaten/kota telah saya kunjungi. Ada dua kesimpulan yang bisa saya katakan. Pertama, Indonesia adalah negara dengan sumber daya alam terkaya di dunia. Kedua, sumber daya manusia kita masih terbatas untuk mengelola itu semua.

Itulah sebabnya literasi menjadi penting. Mengapa kita harus membaca, karena itu perintah Allah. Iqra’. Bacalah.

Definisi Literasi:
➢ Kemampuan seseorang mengumpulkan informasi dari sumber-sumber bacaan berupa buku, koran, majalah, serta sumber lainnya.
➢ Kemampuan seseorang memahami yang tersirat dari yang tersurat.
➢ Kemampuan seseorang dalam mengemukakan ide-ide sesuai informasi dan pengetahuan yang dimiliki.
➢ Kemampuan seseorang/korporasi/lembaga untuk menghasilkan barang/jasa dari informasi dan pengetahuan yang dikuasai.

Segala sesuatu yang tidak ada ilmunya jadi murah atau tidak ada harganya. Itulah pentingnya berliterasi. Misalnya, minyak mentah kita dijual ke Singapura lalu diolah di sana dan dijual kembali ke Indonesia dengan harga berbeda. Kelapa kita dijual mentah lalu di luar diolah menjadi santan Kara. Inilah yang membuat literasi menjadi penting.

Di sinilah kita harus percaya bahwa buku itu sangat penting. Karena yang bisa mengedukasi kita untuk memiliki kepercayaan diri dan kekuatan hanya buku. Zaman sekarang kita tidak lagi berperang secara konvensional, tetapi perang berpikir. Jika dulu kita dijajah Belanda, maka sekarang kita belajar ke Belanda hanya untuk mempelajari buku-buku yang dulu mereka rampok dari negara kita. Belanda adalah negara yang daratannya 6 meter lebih rendah dari permukaan laut tetapi belum pernah kita dengar mereka kebanjiran. Semua itu karena ilmu pengetahuan.

Apa yang dilakukan Belanda kemudian? Mereka mendirikan International Monetary Fun (IMF). Mereka juga mendirikan Organization for Identity and Cultural Development (OICD), lembaga inilah yang melahirkan informasi minat baca di Indonesia rendah.

Perpustakaan adalah:
➢ Rumah mahasiswa, pelajar, dan masyarakat dalam melakukan inovasi untuk berubah ke arah yang lebih baik.
➢ Tempat para penulis, peneliti, penerbit, ilmuwan, agamawan, wartawan, budayawan, dan politikus membedah buku untuk membangun peradaban bangsa.
➢ Tempat untuk mengumpulkan, mengolah, mendayagunakan dan menyimpan produk budaya berupa karya tulis, karya cetak, karya rekam, buku digital, dan hasil pemikiran putra-putri bangsa.
➢ Wadah mengemban mandat UNESCO untuk mewujudkan fungsi yang berorientasi pada layanan nasional warisan budaya dan infrastruktur budaya.
➢ Institusi terpenting untuk menemukan solusi menghapuskan belenggu kebodohan dan kemiskinan.

Jangan sampai pustaka di Aceh menerbitkan buku daerah lain dan dibanggakan pula. Jangan harap menemukan buku tentang Aceh kalau Anda menunjuk orang dari daerah lain untuk menuliskannya. Buku tentang Aceh harus ditulis oleh orang Aceh sendiri. Dananya dari mana? Manfaatkan dana Otonomi Khusus, dana APBD, jauh lebih penting dianggarkan untuk menulis daripada cuma sosialisasi saja.

Contohnya di Kalimantan Barat, dana untuk menulis buku dianggarkan dari APBD. Jika penulisnya sudah menyelesaikan draft-nya akan dibayar Rp5 juta, kalau sudah cetak Rp20 juta. Ini menginspirasi pemerintah untuk menganggarkan lebih banyak lagi. Ini akan memicu minat menulis yang tinggi dan penulis akan tumbuh pesat. Siapa tahu Aceh bisa menjadi pilot project untuk ini. Namun semuanya tergantung komitmen bersama.

Zaman telah berubah, seorang pustakawan bukan lagi tugasnya hanya membeli buku dan menaruh di rak. Pustakawan bergerak dalam rangka knowledge mobilization, pustakawan harus berkarya. Begitu juga dengan paradigma PNS yang harus diubah, tapi kalau tidak ada bahan apa yang akan diubah? Cara mengubahnya ya dengan banyak membaca buku. Setiap orang dianugerahi tak kurang dari satu juta neuron, semakin banyak membaca neuron ini akan tersambung satu sama lainnya yang membuat seseorang makin cerdas.

“Anda sekolah belum tentu membaca. Anda membaca sudah tentu sekolah”

Orang-orang dulu tidak banyak gelar, tetapi mereka banyak membaca seperti Malcolm X, Martin Luther King, dan Nelson Mandela.[]

Selamat @lontuanisme Kamu Sudah Punya Buku!

ICHSAN Maulana aka @lontuanisme belakangan sering mampir dalam pikiranku. Tulisan-tulisan renyah yang ia tulis penyebabnya. Ketika membacanya, aku jadi teringat pada kerupuk jengkol yang populer di era 90-an. Harga per bungkusnya seratus perak. Isinya banyak. Taste jengkol dan kriuknya tentulah yang membuat kerupuk ini jadi camilan kegemaran. Takkan berhenti sampai ludes.

Eh, lupakan kerupuk jengkol yang berwarna putih dengan pinggiran berkelir merah, hijau, atau kuning itu. Aku cuma mau bilang, begitulah tulisan-tulisan Ichsan. Enak dilahap sekali duduk. Walau kadang berat, tapi beratnya masih standar enak digendong. Ups!

Kami saling mengenal setelah sama-sama menjadi steemian. Belakangan kuketahui dia juga bekerja di salah satu media. Patutlah tulisannya bagus. Dari sekian banyak catatannya di Steemit, yang paling berkesan tulisan tentang Mas Pur. Satir dan lara. Terbayang betapa pilunya.

Kami pernah beberapa kali ngopi bersama. Belum pernah ngopi berdua, padahal ingin sekali. Takut mengajaknya minum kopi hanya berdua saja, takut jatuh cinta pada isi kepalanya yang luar biasa itu. Kecerdasan yang ia sembunyikan dalam sikap diamnya. Dalam beberapa kali pertemuan kulihat ia hanya suka mengamati. Dia mengamati yang lain, aku mengamati dia hahahah.

Beberapa hari lalu aku dapat kabar dari @rahmanovic kalau tulisannya masuk dalam antologi buku De Atjehers: Dari Serambi Mekkah ke Serambi Kopi yang diterbitkan Padebook. Syukurlah aku telah lebih dulu mendaftar sebagai peserta peluncuran dan bedah buku tersebut di kampus UIN Ar-Raniry. Kejutan di atas kejutan.

Aku cuma mau bilang, selamat ya, Ichsan. Kamu sudah punya buku (antologi). Semoga ke depan ide-ide kamu bisa dibaca utuh dalam bentuk karya tunggal.[]

Ada yang Hilang

Ada kebahagiaan dan banyak cerita yang ingin kubagi denganmu, pada akhirnya hanya berakhir di ujung jari.

Urung kusampaikan. Urung kukirimkan sebagai pesan. Biarlah cerita itu menguap dengan sendirinya. Aku harus terbiasa, kan? Seperti katamu. Aku harus membiasakan diri tanpamu.

Rasanya ada yang hilang saat aku tidak menemukan sapaan-sapaanmu di sembarang waktu. Seperti memasuki ruang kosong. Hampa. Kalimat-kalimatmu bukan sekadar kumpulan huruf yang mampir begitu saja.

Ya, banyak yang ingin kukatakan padamu tetapi menyimpannya mungkin lebih baik. Toh aku masih bisa menyampaikannya melalui syair-syair yang kau kirimkan. Mengeja setiap bait dan memaknai setiap ketukan nadanya. Entah mengapa, apa pun yang berasal dari dirimu terasa menjadi istimewa. Pun bait-bait bernada itu.[]

 

Senja Senin Terakhir di Bulan Juli

“Wajahmu Jowo banget,” kata ibu-ibu penjual jamu itu kepadaku.

Aku langsung terkekeh, seumur hidup baru kali ini kudengar ada yang mengatakan wajahku mirip Jawa. Aku sendiri merasa wajahku Aceh banget. Sore itu, Senin terakhir di bulan Juli 2018, menjelang senja aku main ke Kompleks Taman Sultanah Safiatuddin.

Saat sedang berkeliling, sembari menemani seseorang memotret, melintas seorang ibu penjual jamu. Pas di depan Anjungan Aceh Tenggara. Aku yang memang suka minum jamu langsung memesan racikan jamu kesukaan.

Sejak pindah ke lokasi tempat tinggal yang sekarang, tak pernah lagi kutemukan jamu yang enak seperti yang dijual di Pasar Ketapang. Hm, seenak-enaknya jamu tetap saja rasanya pahit tapi aku suka.

Mengetahui ibu tersebut orang Jawa, aku lantas mengajaknya mengobrol dalam bahasa Jawa. Ya ampun, sepertinya aku mulai banyak lupa karena hampir tak pernah berinteraksi lagi dalam bahasa Jawa. “Wong Jowo juga?” tanya penjual jamu itu. Lanjutkan membaca Senja Senin Terakhir di Bulan Juli

Jangan Tutupi Wajahmu dengan Mendung

Selamat pagi, Pagi-ku

Apa kabarmu? Semoga mendung yang akhir-akhir ini menggantung di wajahmu bisa segera sirna. Kau tahu, mendung itu, meski menggantung di dirimu tetapi turut menggulungku dalam kesedihan panjang. Membuatku nyaris lara sepanjang waktu, didera gelisah tak berkesudahan. Teruslah tersenyum, menunjukkan ke-ada-anmu dengan cara yang membahagiakan.

Sinar yang biasa aku temukan di sepasang mata teduhmu, akan memekarkan kelopak-kelopak bunga yang ada di taman kecilku. Memberi kekuatan untukku menggerakkan seluruh tungkai, untuk menyongsongmu tentunya. Memberikan kehangatan yang menyelinap ke dalam jiwa. Mengirimkan optimisme setinggi dan setegak Gunung Seulawah Agam.

Pagi dan senja, merupakan dua waktu jika kau mencintainya, membutuhkan usaha yang tidak sepele. Itulah yang kurasakan, Pagi. Yang tak sepele itu kadang-kadang melelahkan juga, ya? Menguras tenaga, pikiran, dan air mata. Mengusik-usik emosi. Mengejawantahkan segala rasa. Tapi kamu memberiku kekuatan, membuatku yakin, dan percaya. Yang sepele itu menjadi energi besar yang menggerakkan seluruh asa dan pikiran. Yang sepele itu, membawaku terlalu jauh ingin mendekam di hatimu.

Senandung yang kau kirim lewat semesta itu seperti bakteri yang mengurai semua lelah yang tadinya hinggap di punggungku. Berlebihan kah bila kukatakan lirik-lirik itu terasa meringankan semuanya? Membuatku seperti mengapung di cakrawala. Apa pun yang berasal dari dirimu,

Pagi,

Aku mencintai kamu. Titip rinduku untuk semesta. Tolong sampaikan pada Langit, aku berterima kasih apa pun yang kau berikan untukku.[]

Selamat Ulang Tahun Guru Kami Yarmen Dinamika

Sudah lama saya ingin menuliskan sesuatu tentang Pak Yarmen, tetapi belum ketemu momen yang tepat. Malam tadi, begitu pergantian waktu dari ‘pm to am’, di beranda Facebook saya langsung berganti pula nama teman-teman yang berulang tahun. Salah satunya muncul nama Yarmen Dinamika. Aha! Hati saya berteriak girang. Inilah saat yang tepat menuliskan tentangnya.

Sungguh, jika semalam saya belum memosting tulisan di Steemit beberapa saat sebelum pukul 00.00 WIB, maka saya akan menayangkan postingan ini. Anggaplah ini sebagai kado dari seorang murid kepada gurunya. Sebagai bentuk apresiasi dan rasa terima kasih atas ilmu-ilmu yang ia berikan untuk kami (saya) selama ini.

Saya sangat bangga bisa menjadi muridnya hampir setahunan ini melalui wadah Forum Aceh Menulis (FAMe). Merasa beruntung karena tidak semua orang mendapatkan kesempatan seperti yang saya dapatkan. Selama belasan tahun saya hanya mendengar namanya saja, bukankah istimewa jika pada akhirnya saya menjadi salah satu muridnya?

Pertama kali saya mendengar nama dan melihat Pak Yarmen pada 2005 atau 2006 silam. Waktu itu beliau menjadi salah satu narasumber untuk pelatihan jurnalistik yang dibuat oleh BEM Unsyiah. Saya salah satu pesertanya. Namun ingatan saya tak bisa memutar ulang fragmen masa lalu itu dengan baik. Memori saya juga tak mampu merekam seperti apa wajah Pak Yarmen ketika itu. Yang saya ingat, salah satu narasumbernya dari Serambi Indonesia.

Saya malah lebih ingat pada Srikawati, salah satu peserta pelatihan yang berasal dari Fakultas Kedokteran Hewan Unsyiah. Srikawati waktu itu kontributor untuk salah satu media di Jakarta. Jujur saja, itu sangat keren kedengarannya.

Nama Pak Yarmen mulai sering saya dengar sejak saya bekerja di The Atjeh Post dalam rentang waktu 2012-2014. Di pengujung 2013, untuk yang kedua kalinya kami berada di forum yang sama. Hari itu saya mendengar namanya disebut-sebut dalam diskusi seminar tesis Bang Alfi Rahman di Magister Kebencanaan Unsyiah. Beliau sempat berbicara, tapi sayang saya tak bisa melihat wajahnya.

Pertengahan tahun lalu ketika ada ajakan untuk mengikuti kelas yang diampu oleh Pak Yarmen, saya tak berpikir dua kali. Saya termasuk orang yang memercayai teori sederhana ini: bahwa manusia terbentuk berdasarkan apa yang ia lihat, dengar, dan rasakan. Maka saya memutuskan untuk membentuk diri saya dengan melihat, mendengar, dan merasakan apa yang diajarkan langsung oleh Pak Yarmen. Sejak saat itu saya memutuskan agar bisa menjadi murid yang baik. Saya meyakini beliau adalah guru yang bisa mendekatkan saya pada impian-impian saya di ranah literasi.

Setelah hampir genap setahun menjadi muridnya, saya merasa menyesal. Duh, kok terlambat sekali saya mengenalnya sih? Kenapa tidak dari dulu. Aduh! Ke mana saja saya selama ini. Pada @hayatullahpasee sering saya katakan, betapa beruntungnya kami bisa menjadi murid Pak Yarmen.

Pak Yarmen guru yang asyik. Ia tak hanya menguasai banyak ilmu tetapi juga sangat baik dalam mentransfer pengetahuannya. Ia juga kerap mengedifikasi murid-muridnya di depan koleganya. Beberapa nama cukup sering ia promosikan di dalam forum.  Sikap positif yang ia tunjukkan ini tentunya akan menambah kepercayaan diri murid-muridnya.

Ia juga seseorang yang sangat rendah hati. Saya sering tak habis pikir, bagaimana mungkin orang sekaliber Pak Yarmen bersedia mengajarkan kami menulis sambil lesehan di kolong rumoh Aceh. Banyak waktu yang seharusnya ia habiskan bersama keluarga di akhir pekan justru ia habiskan bersama kami untuk kelas-kelas khusus. Ia juga menularkan semangat dan keikhlasannya kepada para koleganya sehingga kami, khususnya anak-anak FAMe bisa mendapatkan ilmu-ilmu lainnya secara gratis.

Tapi itulah Pak Yarmen kami. Hari ini usianya genap 53 tahun. Usia setengah abad rasa seperempat abad. Itulah Pak Yarmen kami. Guru kami. Semoga Allah memanjangkan usianya. Selalu melimpahkan kesehatan untuknya. Memudahkan rezekinya. Selamat ulang tahun guru kami Yarmen Dinamika.[]

Bukuku

Kali ini aku ingin bercerita tentang buku-buku koleksiku yang tidak seberapa itu. Sebagian besarnya telah selesai kubaca, tetapi jangan tanyakan apa saja isinya. Aku sama sekali tidak mampu mengingatnya, walaupun hanya garis-garis besarnya kecuali beberapa saja. Kebanyakan bukuku bergenre sastra dan psikologi/motivasi.

Sebagian besar dari buku-buku itu sekarang kondisinya juga tak lagi prima. Beberapa kali banjir di tempat tinggal yang lama cukup untuk membuat halaman buku-buku itu jadi lembab dan rusak. Namun masih berfungsi dengan baik. Sekali waktu bibiku berseloroh agar buku-buku itu dikiloin saja. Selorohan yang membuat hatiku mendadak ngilu ketika itu. Bertahun-tahun aku mengumpulkan buku-buku itu. Rela mengurangi jatah jajan atau beli baju baru demi bisa beli buku baru. Mosok mau dikiloin sih?

Aku suka membaca, tetapi belum termasuk dalam kategori maniak baca. Sejak sembilan tahun lalu aku mulai menerapkan kebiasaan membaca buku minimal lima belas menit sehari. Sayangnya aku tak konsisten dengan aturan yang sudah kubuat sendiri. Seringnya, buku-buku yang sudah kubeli cuma mampu kubaca setengah atau bahkan cuma seperempatnya saja. Selebihnya nangkring di rak, baru dibuka-buka kembali kalau ada sesuatu yang dicari sebagai referensi. Bukankah memang untuk itu buku diciptakan? 😀

Kadang-kadang membaca buku kugantikan dengan membaca artikel-artikel di internet. Di tas hampir selalu ada buku, tapi belum tentu juga selalu dibaca. Masih banyak lalainya. Waktu-waktu luang di sela-sela aktivitas, seperti saat menunggu atau mengantre, lebih sering digunakan untuk main hengpong. Duh!

Berbeda dengan buku-buku sastra khususnya novel. Jika buku tersebut bagus maka aku takkan beranjak sebelum seluruh halamannya khatam. Kalau ceritanya bagus malah aku bisa ‘gila’ hingga beberapa waktu setelah itu. Lebih seru sebab aku punya teman-teman asyik yang bisa diajak gila bareng. Contohnya @dyslexicmom.

Aku mulai berkenalan dengan buku-buku sejak masih di Sekolah Dasar. Itupun hanya beberapa buku saja yang sempat kubaca. Sedikit kuceritakan mengenai kondisi sekolahku dulu. Kami belajar di ruang sekolah bekas ter(di)bakar pada masa konflik. Tak ada pustaka di sekolah kami. Cuma ada sebuah lemari berisi sedikit buku yang diletakkan di ruang kepala sekolah. Lemari berisi buku-buku itu baru kami (ku)ketahui menjelang aku tamat SD. Mesakke banget!

Sempat meminjam beberapa buku bacaan untuk dibawa pulang ke rumah. Belakangan aku lebih suka membaca buku Rangkuman Ilmu Pengetahuan Alam Lengkap (RPAL) dan Rangkungman Ilmu Pengetahuan Umum Lengkap (RPUL). Ditambah buku tebal Evaluasi Belajar Tahap Akhir Nasional (Ebtanas) yang warna sampulnya biru.

Buah dari membaca buku-buku ini, aku seringkali bisa pulang lebih awal ketika guru memberi pertanyaan di jam pelajaran terakhir. Siapa yang bisa menjawab pertanyaan boleh pulang duluan. Siapa nama pahlawan dari Maluku? Siapa ini? Siapa itu? Begitulah… ilmu-ilmu sosial lebih kusukai dibandingkan matematika. Aku rela berdiri kaki bebek karena tidak bisa menyelesaikan soal-soal pecahan di papan tulis.

Koran-koran bekas tak pernah luput begitu saja. Suatu hari aku mendengar tetangga mengatakan, orang yang suka membaca tandanya pintar karena bisa mendapatkan banyak informasi. Ah, hatiku berbunga-bunga ketika itu. Ucapan itu membuat anak SD sepertiku menjadi kian termotivasi untuk membaca. Kupikir, esensi dari ucapan itu adalah pujian positif yang bisa membangkitkan semangat positif pula.

Benarlah kata seseorang, hanya apresiasi yang pantas yang membuat seseorang bisa terus maju dan berkembang melampaui apa yang ia pikirkan tentang dirinya.

Seseorang yang lain pernah mengatakan, kalau aku ingin jadi pemimpin maka aku harus menyelesaikan membaca seribu buku. Pesan itu ia torehkan di sebuah buku yang ia hadiahkan untukku di tahun 2006 silam. Kalau saja aku mengetahui di mana keberadaan seseorang itu sekarang, aku ingin bertanya padanya: buku apa yang harus kubaca untuk memahami semua ini?[]