Pada Hujan dan Angin Pagi Ini

Selamat pagi, Hujan. Sampaikan rinduku pada Semesta. Terima kasih, Angin telah menyapaku dengan lembut pagi ini.

Kesejukan dan silir lembutmu telah memadamkan bara yang meletup-letup di jiwaku sejak semalam. Semalam aku berangkat tidur dengan senyum sabit terbalik di bibir, pagi ini aku terbangun dengan senyum serupa perahu di bibir. Manakala telingaku sayup-sayup mendengar suara rintikmu di luar sana.

Semalam aku tidur dengan bulir-bulir hujan mengalir di kelopak mata, tapi Semesta telah memindahkannya ke cakrawala pagi ini. Menyejukkan bumi, menyirami bunga-bunga yang kusemai di taman kecilku. Menurunkannya dari langit.

Pagi ini, saat kubuka jendela, saat kubuka pintu, Angin menyerbu dengan girang. Pancaindraku menangkapnya dengan lembut. Menghalau segala perih dan nyeri yang semalaman terkurung di dalam jiwa.

Kadang aku berpikir, mengapa harus menangis? Mengapa harus mengeluarkan air mata? Mengapa harus bersedih? Mengapa harus merasa sakit? Mengapa harus merasa nyeri? Mengapa harus merasa kecewa? Mengapa pula harus merasa tak cukup berarti?

Bukankah gagal bertemu itu sesuatu yang sangat biasa. Bisa terjadi pada siapa saja. Karena aku bukan Hujan, aku juga bukan Angin, aku manusia yang dianugerahkan Tuhan sebentuk perasaan. Dengan itu aku merasa, jiwa sensitifku terbentuk, dan kadang-kadang di musim-musim tertentu menjadi sangat melankolis. Air mata menjadikan perasaan itu kian paripurna.

Namun air mata itu bisa dihentikan dengan tidur, rasa kecewa bisa digantikan dengan bunga-bunga tidur, kegelisahan bisa ditundukkan dengan menghilangkan kesadaran dengan sadar, kesedihan juga bisa dihilangkan dengan memejamkan mata. Walaupun, ketika aku tidur yang termimpikan malah dia. Kurasa itu bukan mimpi, melainkan sesuatu yang muncul dari alam bawah sadar.

Hujan dan Angin, terima kasih telah mengirimkan aroma tanah basah yang menyegarkan. Mengirimkan hawa sejuk ke seluruh pancaindraku. Aku merasa lebih baik. Selalu merasa lebih baik tiap kali kuserahkan sepenuhnya diriku pada Semesta.[]

Aroma Getah dan Embun dari Tubuh Pagi

Dear Pagi,

Rasanya sudah tak sabar ingin segera melihat rupamu. Padahal, baru belasan jam yang lalu aku menyaksikan ke-ada-anmu melalu hangat yang dikirim semesta. Melalui sulur-sulur cahaya berwarna emas.

Bahkan bayanganmu pun belum sempurna pupus dari ingatanku. Hm, bagaimana akan pupus, jika aku terus menambahnya dengan bayangan-bayangan yang baru.

Hatiku seperti sedang berlomba lari saat ini. Debarnya tak mampu kukendalikan. Liar. Ugh! Seperti sengal napas yang memburu karena berlomba dengan hasrat. Begitulah terburu-burunya debar itu agar ia segera menemui sudah. Sudah itu adalah rupamu, Pagi. Aku harus berdamai dengan malam yang pekat dan kental.

Pagi,

Aku kangen aroma tubuhmu. Aroma yang dibungkus kesiur angin. Aroma getah yang bercampur dengan bau embun yang basah. Aroma dari pancaindramu. Aku kangen kecup hangat yang kau sampirkan di pundakku. Hinggap bagai kupu-kupu di kelopak bunga. Aku ingin meneguk madu-madu yang muncul dari setiap pori-porimu.

Aku ingin mengulang fragmen itu,

saat aku mengatakan: “Kaulah Pagi-ku!”

Kemudian kau mengultimatum: “Sssttt… jangan terlalu banyak bicara!”

Ya, kau benar. Pagi merupakan jelmaan keheningan. Lalu, mengapa aku jadi sangat berisik?[]

Bahasa Pancaindra

Tentang cinta, tentang dua hati yang menyatu erat dan lekat

Hari ini aku menyaksikan rupa Pagi yang berbeda. Matanya yang tetap bersinar, seperti pantulan cahaya di permukaan telaga. Menyejukkan sekaligus memberi kehangatan. Mengirimkan sengatan listrik dengan letupan-letupan kecil yang menggelitik.

Senyumnya, tetap seperti sampan, mendayung perlahan, mengirimkan aba-aba. Isyarat rindu yang harus dituntaskan. Ia mengayuh pelan, kadang cepat, kadang memburu, menyesuaikan dengan ritme angin dan gelombang. Ada ombak yang harus ditaklukkan. Aku terpasak di antara kedua sayapnya.

Pagi, dari balik jendela itu dunia terlihat berbeda, ya? Lampu-lampu yang melilit tiang-tiang, warna langit yang beranjak tua, kemudian bersalin menjadi abu-abu.  Berhiaskan manik-manik yang berkilau. Dininabobokan angin yang berkesiur lembut. Cahaya dan kegelapan saling bermutualisme.

Saat itulah aku menyaksikan bagaimana pancaindera saling berbicara dengan bahasanya sendiri. Kata-kata memilih bungkam. Membiarkan lidah, mata, kulit, telinga, hidung, saling berebut mengeluarkan emosi. Berjuta-juta pesan. Berjuta-juta bahasa.

Rindu perlu dibekukan, bukan? Cinta juga perlu diekstraksi. Dan waktu, perlu diikat di dalam benak dan ingatan. Agar ia, kelak, menjadi kesan dan kenangan yang membahagiakan.[]

Apakah Pagi-ku Sudah Datang?

Walau tak bisa kusapa sebagai jingga yang hangat, pagi tetaplah pagi. Sekalipun dibebat mendung, aku selalu menunggumu dengan debar.

Saat memutuskan mencintaimu, aku sudah tahu mencintaimu memang tak mudah. Aku harus terjaga lebih awal daripada burung-burung yang bertengger di ranting pohon. Menikmati sisa-sisa gelap dengan secangkir teh atau secangkir kopi yang masih mengepulkan uap. Dengan sekeping atau dua keping roti bertabur gula-gula.

Dalam lamunanku di tepi jendela, terkadang aku melihatmu hadir sebagai tukang pos. Mengantarkan sepucuk surat atau selembar kertas usang dengan isi yang biasa-biasa saja; apa kabar? atau selamat pagi.

Dalam lamunanku yang lain, kau hadir dengan payung warna-warni di tanganmu. Menaungiku dari terik atau guyuran hujan. Atau bila kita ingin, lepaskan saja payung warna-warni itu agar diterbangkan angin. Lalu kita bersama-sama menikmati gigil yang menembus pori.

Di dekatmu, aku tahu, ada hangat yang selalu merayap hingga ke ujung-ujung saraf. Di dekatmu, yang mendidih sekalipun bisa berubah menjadi beku. Tungkai-tungkai menjadi kehilangan daya. Sebaliknya, yang membeku bisa menjadi magma dalam sekedip mata.

Pada lamunan yang berbeda, aku melihatmu hadir sebagai tukan kembang. Membawakan aneka bunga warna-warni di dalam keranjang rotan berjalin cokelat muda. Kau, dengan topi lebar yang menutupi setengah cuping runcingmu. Binar di matamu kutamsil dalam segaris lengkung senyum serupa bulan sabit di bibirmu. Garis yang membentuk sumur madu di pipimu.

Hingga akhirnya teh yang kuseduh hanya bersisa di dasar cangkir. Semut-semut hitam membawa lari kepingan rotiku. Kepul uap kopi telah menyatu dengan udara yang kusesap. Apakah Pagi-ku sudah datang?[]

 

 

Pertanyaan yang Kurindukan

“Apa kamu masih menuliskan tentang Pagi?”

Kalimat itu muncul di antara obrolan kita yang tak beraturan malam itu. Obrolan yang lebih banyak diambil alih oleh diam. Obrolan yang kacau. Cum berantakan. Mungkin karena itu pula aku lupa menjawab pertanyaanmu. Padahal bibirku sudah tergerak ingin segera menjawabnya.

Sudah lama aku menunggu pertanyaan itu kau ajukan. Aku lupa kapan terakhir kali kau bertanya: adakah rindu yang bisa kubaca pagi ini? Continue reading

Anemogami

“Kamu masih mencintaiku, kan?” tanyamu malam itu. Lima belas menit menjelang pukul 00:00 WIB.

Aku yang sudah bersiap-siap ingin tidur jadi terbeliak kembali. Menatap layar ponsel dengan mata nyaris membulat. Geli dengan pertanyaan yang kau lontarkan. Kamu ini, tanpa perlu bertanya pun kau sudah tahu jawabannya, kan?

“Kamu masih ingin aku cintai?” balasku dengan gaya serius.

“Masih. Aku masih ingin dicintai olehmu. Dicintai itu nikmat.” Continue reading

Ada yang Hilang

Ada kebahagiaan dan banyak cerita yang ingin kubagi denganmu, pada akhirnya hanya berakhir di ujung jari.

Urung kusampaikan. Urung kukirimkan sebagai pesan. Biarlah cerita itu menguap dengan sendirinya. Aku harus terbiasa, kan? Seperti katamu. Aku harus membiasakan diri tanpamu.

Rasanya ada yang hilang saat aku tidak menemukan sapaan-sapaanmu di sembarang waktu. Seperti memasuki ruang kosong. Hampa. Kalimat-kalimatmu bukan sekadar kumpulan huruf yang mampir begitu saja.

Ya, banyak yang ingin kukatakan padamu tetapi menyimpannya mungkin lebih baik. Toh aku masih bisa menyampaikannya melalui syair-syair yang kau kirimkan. Mengeja setiap bait dan memaknai setiap ketukan nadanya. Entah mengapa, apa pun yang berasal dari dirimu terasa menjadi istimewa. Pun bait-bait bernada itu.[]

 

Jangan Tutupi Wajahmu dengan Mendung

Selamat pagi, Pagi-ku

Apa kabarmu? Semoga mendung yang akhir-akhir ini menggantung di wajahmu bisa segera sirna. Kau tahu, mendung itu, meski menggantung di dirimu tetapi turut menggulungku dalam kesedihan panjang. Membuatku nyaris lara sepanjang waktu, didera gelisah tak berkesudahan. Teruslah tersenyum, menunjukkan ke-ada-anmu dengan cara yang membahagiakan.

Sinar yang biasa aku temukan di sepasang mata teduhmu, akan memekarkan kelopak-kelopak bunga yang ada di taman kecilku. Memberi kekuatan untukku menggerakkan seluruh tungkai, untuk menyongsongmu tentunya. Memberikan kehangatan yang menyelinap ke dalam jiwa. Mengirimkan optimisme setinggi dan setegak Gunung Seulawah Agam.

Pagi dan senja, merupakan dua waktu jika kau mencintainya, membutuhkan usaha yang tidak sepele. Itulah yang kurasakan, Pagi. Yang tak sepele itu kadang-kadang melelahkan juga, ya? Menguras tenaga, pikiran, dan air mata. Mengusik-usik emosi. Mengejawantahkan segala rasa. Tapi kamu memberiku kekuatan, membuatku yakin, dan percaya. Yang sepele itu menjadi energi besar yang menggerakkan seluruh asa dan pikiran. Yang sepele itu, membawaku terlalu jauh ingin mendekam di hatimu.

Senandung yang kau kirim lewat semesta itu seperti bakteri yang mengurai semua lelah yang tadinya hinggap di punggungku. Berlebihan kah bila kukatakan lirik-lirik itu terasa meringankan semuanya? Membuatku seperti mengapung di cakrawala. Apa pun yang berasal dari dirimu,

Pagi,

Aku mencintai kamu. Titip rinduku untuk semesta. Tolong sampaikan pada Langit, aku berterima kasih apa pun yang kau berikan untukku.[]

Aku Pergi saat Hujan Jatuh

Langit mulai bersalin rupa saat aku membuka pintu rumah pagi tadi. Kuarahkan pandang ke arah matahari terbenam. Kelabu. Pandangan mataku menangkap warna langit yang abu-abu. Apakah semesta sedang bersekongkol?

Sisa mimpi buruk semalam masih menyisakan kekacauan di dalam hati. Membuat tungkai-tungkaiku serasa tak mampu menopang bobot tubuh. Sebagian yang lain kurasa seperti diserang gigil. Bahkan untuk melangkah pun rasanya aku tak kuasa.

Ditambah muramnya langit hari ini, semakin lengkaplah nelangsa yang bercokol di dalam benak. Sampai di sini, rasanya sulit sekali bagiku untuk menerjemahkan sebuah konsep sederhana; jangan pernah memberi syarat untuk mendapatkan kebahagiaan. Continue reading

Engkau Puisiku

Jika engkau puisi maka setiap detail tubuhmu adalah narasi

Rasa yang tak pernah habis kutulisi

Atau kuceritakan

Senyummu adalah sajak yang lebih manis dari embun pagi

Yang selalu meninggalkan jejak tiap kali usai mengecupnya

Yang selalu menghadirkan gigil di antara kepungan rindu

 

Kau adalah puisi terpanjang

yang takkan pernah habis kubaca

sepanjang hayatku

 

Selamat Hari Puisi

Cinta dan rindu yang banyak untukmu